Untuk Apa Kita Menulis?

Anda tentu percaya bahwa di samping wujudnya yang berupa fisik, manusia juga memiliki apa yang disebut emosi.

Sebagaimana fisik yang memiliki otot-otot yang akan kaku jika tidak dilatih atau digunakan, emosi pun demikian, akan tumpul dan bahkan mati kalau tidak dilatih. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Daniel Goleman, seorang psikolog dari Universitas Harvard, dalam bukunya Emotional Intellegence bahwa kesuksesan hidup manusia hanya 20% bergantung pada kecerdasan intelektual (IQ), selebihnya 80% bergantung pada kecerdasan emosional.

Menulis adalah salah satu aktivitas yang banyak melibatkan emosi. Jika tidak terbiasa atau membiasakan diri, maka menulis akan menjadi satu hal yang sangat sulit dilakukan, padahal betapa banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari menulis.

“Menulis, sesungguhnya, bagaikan mengalirkan kata-kata yang membawa segala ‘kotoran’ yang menyesaki diri kita. Menulis dapat membantu kita mengosongkan apa saja yang ingin kita keluarkan yang ada dari dalam diri kita. Menulis, insya Allah, dapat membuka diri kita, dan diri kita yang terangkai dalam kata-kata milik kita itu kemudian akan memantulkan siapa diri kita sebenarnya.” Kata-kata ini saya dapati dalam Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, ditulis oleh Hernowo.

Menurutnya, ia dapati kata-kata itu dari halaman-halaman awal buku karya James P. Pennebaker: Opening Up: The Healing Power of Expressing Emmotions, yang diterjemahkan oleh penerbit Mizan (2002) menjadi Ketika Diam Bukan Emas: Berbicara dan Menulis Sebagai Terapi

Ternyata dahsyat sekali manfaat menulis itu. Saya sangat terkesima ketika menyadari bahwa penjelasan manfaat menulis dari Pennenbaker bisa sampai kepada saya melalui Hernowo. Saya tidak pernah (sekedar) melihat Pennenbaker apalagi mengenalnya, dan begitupun dengan Hernowo, saya juga belum pernah berjumpa dengannya meskipun saya sempat berkorespondensi melalui email beberapa kali. Tapi, bagaimana kata-kata pak Pennenbaker itu bisa sampai kepada saya? Ini tidak lain karena ia menuliskan apa yang ingin disampaikannya, kemudian Hernowo menulis kembali apa yang pernah dibacanya, dan pada akhirnya saya membaca apa yang ditulis pak Hernowo. Ini merupakan salah satu manfaat menulis, yaitu pesan yang ingin kita sampaikan dapat tersebar secara luas dan tersimpan secara utuh.

Belum lagi jika kita cermat kembali kata-kata pak Pennenbaker itu bahwa menulis bisa menjadi sebuah terapi yang mengalirkan kata-kata yang membawa ‘kotoran’ yang menyesaki diri kita Menulis juga bisa menjadi wahana secara reflektif untuk melihat diri kita dengan utuh, mengenal siapa diri kita sebenarnya, melatih untuk berpikir secara logis, meningkatkan kepekaan emosi, menjadikan kita seorang penghuni bumi yang turut mewarnai dunia, dan juga bisa menjadi sumber penghasilan.

Jadi, alangkah beruntungnya jika sekiranya sejak saat ini kita melatih otot-otot emosi kita – tidak pernah ada kata terlambat – untuk meningkatkan kepekaan emosi kita. Dan karena caranya melalui menulis, maka dengan serta merta keterampilan menulis kita harus selalu diasah. Dan oleh karena kepiawaian menulis berkorelasi positif dengan seberapa banyak kita membaca – karena tidak ada output (menulis) tanpa input (membaca) – maka sudah sewajarnya kita bertekad untuk melakukan akselerasi dalam hal membaca. Kita mentransformasi diri kita dari belajar untuk membaca menjadi membaca untuk belajar.

Never be late, we are never too old to learn.

About Gema

https://www.facebook.com/gema.indra.9

View all posts by Gema →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *