Passion. Passion. Passion.

Kawan saya, si penulis amatir, bercerita bahwa dia lebih produktif menulis sewaktu sibuk bekerja dulu. Saat itu dia kerja di Tanah Abang, berangkat dari rumah di Bekasi jam 5.30 pagi supaya bisa dapat kereta jam 6. Pulangnya nggak selalu pulang on time, sering kali pulang selepas maghrib bahkan isya dan tiba di rumah jam 8 atau 8.30 malam.

Capek? Jelas, katanya, tapi nggak pake banget.

Amazing-nya dia bisa menulis tiga cerpen dalam waktu satu bulan, sesuatu yang sangat sulit dilakukan saat ini. Dia juga bisa dibilang gila baca. Dia baca di mana aja, nggak pernah absen kalau ada pameran buku.

Tapi sayangnya saat dia lebih punya banyak waktu luang, dia malah menulis lebih sedikit.

“Jadi, apa yang salah?” tanyanya.

Apa yang langsung terlintas di pikiran saya adalah kata passion. Gairah menulis. Mungkin itu yang hilang dari dia.

Passion itu seperti nafsu makan. Selezat apa pun makanan yang terhidang tidak akan disentuh kalau tidak nafsu.

Passion harus ditumbuhkan. Tapi gimana caranya?

Mungkin lebih mudah mendatangkan passion kalau kita dibayar. Ini yang disebut passion kepepet. He-he-he.

Tapi kan dia nggak dibayar.

Setidaknya dia bisa coba melihat ke masa lalu di kala passion menulisnya masih tinggi. Saya ingat alasan dia menulis karena ingin ceritanya dibaca banyak orang. Dia ingin punya karya seperti para penulis terkenal.

“Coba lo baca tulisan ini deh,” katanya seraya menunjukkan cerpen The Gift of The Magi karya O. Henry. Kemudian dia melanjutkan, “Siapa yang nggak pengen bisa menulis seperti itu? Siapa yang nggak pengen punya karya seperti Harry Potter? Siapa yang nggak kepengen menjadi penulis cerita misteri seperti Agatha Christie?”

Tapi saya tidak melihat semangat itu lagi.

Jadi, bisakah passion itu benar-benar kembali?

Entahlah. Tapi dia mencoba melakukannya dengan menulis artikel ini.

About Ali

Penulis Amatir | duniafiksi.com

View all posts by Ali →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *