Menulis Bugar. Bugar Menulis

Kesan suntuk seolah melekat pada para penulis: Rambut acak-acakan, mata sayu, duduk berselimut di depan laptop, rokok. Nggak deh. Terkadang persepsi di depan itu yang membuat orang memandang para penulis pemula dengan pesimis. “Mau makan apa dari menulis?” tanya seorang ayah pada anaknya. Ditambah kesan menerbitkan buku itu sangat sulit.

Mulai sekarang mari kita buang kesan jahat itu. Menulis memang pekerjaan otak dan rasa. Akan tetapi, seperti kata peribahasa ‘Mens sana in corpore sano’ atau ‘Dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat’, menulis memerlukan kebugaran fisik agar darah mengalir lancar ke seluruh tubuh hingga ke otak. Otak yang sehat insya Allah akan melahirkan pemikiran brilian.

Ah, kalau tidak percaya, silahkan bandingan kondisi menulis kamu sebelum dengan sesudah berolah raga.

Fyi, saya menulis artikel ini tepat setelah setengah jam berolahraga pagi dan ini benar-benar membuat saya bersemangat. Jauh berbeda ketika saya menulis dengan pola pikiran saya harus fokus menulis di kamar yang sepi, berkutat dengan buku-buku referensi, kopi dan makanan ringan (saya tidak merokok). Saya merasa sumpek dan agak sensitif.

Selain itu, berolahraga juga jadi solusi ketika kita tidak mendapatkan tempat menulis yang kita inginkan.

Kebanyakan orang bermimpi menulis di sebuah kabin di pegunungan atau di kamar hotel mewah, tapi tidak semua orang punya kemampuan mewujudkannya. Dengan menulis setelah berolahraga, ternyata saya bisa menciptakan suasana seperti itu.

Dan jangan lupa untuk tetap tersenyum.

About Ali

Penulis Amatir | duniafiksi.com

View all posts by Ali →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *