Menulis: Bakat atau Kerja Keras?

Di Indonesia, konon katanya orang yang membaca itu lebih sedikit daripada yang tidak membaca. Dari segolongan kecil orang yang membaca itu sebagian kecil saja yang mencoba menulis sesuatu. Dari yang mencoba menulis sesuatu itu, yang menghasilkan karya tertulis hanya sebagian kecil saja. Dan dari yang mampu menghasilkan karya nyata, hanya sedikit yang karyanya best seller, silakan survei sendiri.

Gendeng … jadi penulis best seller itu ibarat kutu di tumpukan jerami, langka …

Apanya yang salah coba …?

Padahal orang Indonesia ini kan paling doyan ngobrol, ngomong ngalor-ngidul, ada aja bahannya. Coba kalau bahan obrolan itu direfleksikan menjadi satu bahan tulisan, bisa bertajuk opini, saran, atau tinjauan umum bisa jadi itu akan merubah budya kita menjadi masyarakat yang gemar membaca.

Barangkali karena budaya komunikasi lisan masih mendominasi dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, banyak orang yang belum apa-apa dan belum pernah mencoba menulis sudah buru-buru berkata bahwa saya tidak bakat menulis.

Apa iya menulis itu bakat?

Menurut saya itu hanya dugaan yang tidak berdasar? Kalau kita ingat-ingat, dari jaman SD, pendidikan di Indonesia kurang melatih muridnya untuk terbiasa menulis, atau untuk gemar menulis.

Mungkinkah sistem pendidikan kita menyebabkan siswa-siswa menjadi takut menulis, sehingga kalau diberi tugas menulis itu bawaannya udah horor duluan?

Atau bisa jadi juga dikarenakan dunia pekerjaan yang berkaitan dengan tulis-menulis itu hanya sedikit? Anehnya, dikalangan guru, dosen dan wartawan yang nota bene pekerjaannya erat sekali dengan dunia tulis-menulis, menulis itu juga masih menjadi hantu yang cukup menyeramkan.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengatasi itu semua?

Mulai saja dari diri sendiri, tumbuhkan strong why dalam hati kita secara mendalam.

Karena setiap orang pada umumnya punya bakat yang sama untuk menulis.

seseorang yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba ia mampu merangkai tulisan yang indah untuk kekasihnya. Orang yang lagi gundah,tiba-tiba saja mampu menuangkan keluh kesahnya dalam buku hariannya. Orang  yang menemukan sesuatu yang luar biasa, tanpa perlu berpikir mampu mendeskripsikan apa yang dilihatnya.

Terlebih di era digital sekarang, adanya FB, blog, twitter, WA, Kita bisa lancar berkomentar atau update status yang semuanya berbentuk tulisan.

Setelah muncul strong why-nya” kemudian rawatlah hal itu dengan lingkungan yang mendukung, ikutilah kelompok-kelompok penulis lokal di kota kita, bergabunglah dengan komunitas-komunitas penulis online, rajin-rajinlah membaca berbagai tulisan.

Karena menulis tanpa kita sadari, sebenarnya merupakan proses mengkombinasikan kegiatan membuat sistematika pada proses berpikir, mencurahkan gagasan, memunculkan ide-ide kreatif, merefleksikan kejadian, menegakkan eksistensi, dan proses psikologi yang memiliki efekpositif bagi energi jiwa.

Yuk ah kita mulai nulis!

About Gema

https://www.facebook.com/gema.indra.9

View all posts by Gema →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *