Masih Adakah Yang Menulis Diary?

Sudah berapa kali Anda bercermin hari ini?

Waktu di kamar mandi, sehabis mandi dan pakai baju, pas lagi sisiran, pas mau naik motor sempetin ngelirik spion terus pas sudah sampe dan buka helm, jalan di parkiran ngaca di jendela Mobil yang lagi parkir, dan mungkin sederetan momen lain yang asal ketemu kaca ya bawaanya gatel aja pengen ngaca … betul ga? Udah ngaku aja … hahaha.

Manusia memang seperti itu, mahluk yang egosentris yang dipikirin selalu tentang dirinya, takut tentang penilaian orang lain terhadap dirinya, ingin terlihat sempurna. Sayangnya orang lain juga begitu, mereka juga memikirkan hal yang sama tentang diri mereka, jadi alih-alih menilai Kita, orang lain itu sudah terlalu sibuk menilai dirinya sendiri … cape deh …

Apa yang saya katakan di atas tentang diri, itu semua tentang fisik loh ya, jasad, raga, outer, bahkan Aa Gym nyebutnya topeng (ga pake monyet).

Kita terlalu sibuk memikirkan topeng itu, sedangkan bagian diri yang asli, yaitu hati, jiwa, inner, rasa, beuh … udah lama mungkin tidak kita perhatikan … Astaghfirullah.

Sayangnya kita rajin bercermin fisik tapi lalai bercermin hati.

Emangnya ada cermin untuk berkaca hati?

Oh pantes, belum tau ya … makanya wajar hatinya jarang ngaca.

Sekarang saya kasih tau.

Salah satu cara ampuh untuk ngacain inner kita yaitu dengan M-E-N-U-L-I-S. Iya menulis, apapun namanya, ada yang menyebut diary, jurnal, catatan hati, apapun itu intinya menulislah!

Jurnal itu ibarat cerminan kehidupan kita, ia berkembang seiring dengan pertumbuhan dan kematangan emosi. Misalnya aja saat pertama kali masuk sekolah dan belum punya teman, ada teman atau anggota keluarga yang meninggal, dihukum guru atau ditegur atasan karena kelalaian kita, sampai sakitnya persahabatan kita yang retak karena orang ketiga. Semua kejadian itu bisa menunjukkan seperti apa kita pada saat kejadian-kejadian tersebut kita alami.

Setidaknya ada beberapa manfaat menulis buku harian atau jurnal yang berhasil saya himpun. Melatih diri menjadi penulis yang produktif, karena mampu menulis setiap hari.Mengasah kemampuan akal untuk terus berpikir dalam mengolah cerita ke dalam kata-kata.

Melatih kemampuan memori. Dengan menuliskan kegiatan sehari-hari kita jadi bisa mengingat sebuah runtutan kejadian.

Refleksi atau muhasabah diri. Dengan melihat tulisan pengalaman yang telah kita lakukan, membuat kita mampumerefleksi dan mengoreksi diri kita sendiri.

Mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami, sehingga kita bisa lebih bijak bersikap di Masa depan.

Menjadi sejarah hidup yang penting yang mampu menjadi pendukung cerita sukses kita nantinya.

Saya sudahi dahulu bahasan tentang menulis diary ini, nanti Anda keasyikan baca sampai lupa buat tulisan sendiri.

Yuk ah mari menulis…!

About Gema

https://www.facebook.com/gema.indra.9

View all posts by Gema →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *