Luapan Emosi

Seharusnya saya bisa mengerjakan soal nomor 21 tapi dilewatkan begitu saja karena lupa rumusnya, dan baru ingat sesaat setelah mengumpulkan lembar jawaban. Padahal, seandainya bisa mengerjakan soal tersebut, saya bisa lolos dengan peringkat terbaik di sekolah. Uh, rasa-rasanya pengen teriak sekeras-kerasnya: “Arrgggh!!!”

Tapi momen itu sudah lewat enam tahun. Sekarang, perasaan berbeda datang baru saja ketika saya menerima panggilan telepon dari salah satu perusahaan minyak dunia. Saya menutup pintu kamar, menghadap cermin, kedua tangan saya dikepal lalu ditarik ke bawah: “Alhamdulillah diterima.”

Impian dapet gaji gede, mengumrohkan orang tua, beli mobil dan membiayai kuliah adik satu-satunya bakalan terwujud.

* *

Menulis merupakan wujud dari luapan kegembiraan, kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, penyesalan. Menulis tidak menggantikan tangisan atau teriakan gembira.

Seperti push-up, menulis mengarahkan emosi kita ke arah yang lebih kreatif. Apalagi buat Anda yang selalu beralasan nggak ada mood buat menulis, menulis saat sedang emosinal bolah jadi merupakan waktu mood terbaik Anda.

Menulislah. Jangan pikirkan hal lain, jangan peduli pada masalah teknis menulis, abaikan saja grammar. Biarkan emosi Anda mengalir seperti air sungai yang mengalir kencang di tengah hujan deras. Di sana Anda akan menemukan jeram yang ganas menampar batu-batu besar, mengempas jembatan kayu kecil hingga roboh. Sampai akhirnya deras aliran sungai itu perlahan berkurang  dan berangsur-angsur menjadi tenang.

Hasil tulisannya mungkin berbeda-beda. Ada dalam bentuk coretan di buku harian,  cerpen, novel, atau puisi. Namun apa pun itu, menulis untuk meluapkan emosi berarti berbagi, meskipun hanya disimpan untuk diri sendiri.

Tengoklah diri Anda berpuluh tahun kemudian, ketika Anda sudah memiliki anak dan menemukan catatan tersebut saat membereskan rumah Anda. Lalu di malam harinya, ketika istri dan anak Anda sudah tertidur lelap, Anda membacanya diam-diam.

Katakan apa yang Anda rasakan?

Tentu saja. Apa pun emosi Anda di masa lalu, saya pastikan Anda akan tersenyum ketika membacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *