Kenapa Menulis Begitu Sulit?

Mungkin akan berbeda kalau Anda seorang penulis berbakat dan berpengalaman, seperti pemain sepakbola alami Brasil, yang dengan mudah menulis ide dengan sekali jebreeet.

Tapi bagi seorang pemula, untuk menulis satu kalimat saja butuh kerja keras, dua gelas kopi dan sepiring pisang goreng.

Menurut motivator, hambatan itu datang dari pikiran (bukan kurangnya pisang goreng). Ketika kita berpikir sulit, maka jadilah sulit. Begitu juga sebaliknya.

Sayangnya, saya juga masih kesulitan setelah menanamkan sugesti menulis itu gampang. Ada saja masalah yang menghambat jemari ini menari di atas keyboard laptop. Baru saja menulis beberapa kata, saya buru-buru mengoreksi. Apa kata ini cocok? Atau, Apa kalimatnya sudah bagus?

Kalau kita break down, hambatan menulis (writer’s block) itu banyak sekali, mulai dari nggak mood, nggak ada waktu, butuh kopi, sampai kehabisan ide. Saya bukan ahlinya memberi tips, tapi setelah mencari-cari di google, saya fokus pada dua hambatan yang sering terjadi:

Pertama: Kita ingin tulisan yang sempurna

Semua penulis, terlebih penulis pemula pasti ingin tulisan yang bagus. Kita sering merasa tidak nyaman sebelum tulisan kita sempurna.

Butuh waktu berjam-jam untuk memoles satu paragraf, mulai dari mengoreksi grammar, memilih kata yang tepat, bahkan menulis ulang. Tombol backspace di keyboard jadi teman setia.

Editing bukanlah hal buruk, tapi melakukannya di tengah-tengah tulisan bisa jadi masalah besar karena tulisan kita tidak akan pernah selesai.

Jadi gimana soluosinya?

Untuk sedikit mengatasi masalah itu, alih-alih menulis banyak, kita memilih merasa nyaman dengan tulisan saya, setidaknya sampai tulisannya selesai. Kita berpuasa dari godaan-godaan editing selama menulis. Editing bisa dilakukan setelah selesai menulis.

Kedua: Mentok

Kehabisan ide atau mentok biasa terjadi pada setiap penulis. Kita sering bertanya sendiri: “Terus, nulis apa lagi ya?”

Ide brilian yang seharusnya jadi buku best seller hanya tersimpan di dalam folder tanpa pernah diterbitkan.

Lalu apa yang kita lakukan kalau ini terjadi?

Banyak baca.

Bahkan Stephen King sangat menganjurkan itu supaya menjadi penulis sukses: banyak baca dan banyak nulis.

Pengalaman orang lain sering kali bisa mendatangkan ide. Begitu juga membaca artikel-artikel di internet yang berhubungan dengan tema yang kita tulis.

You are what you read, begitu kata orang bijak. Membangun kebiasaan membaca secara otomatis akan mengarahkan kita pada kebiasaan menulis kita.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *