Disangka Copet Malah Jadi Cerpen

Bagaimana mungkin orang ganteng rapih dan kayak gini dikira copet? Tapi itu pernah terjadi.

Sabtu pagi itu saya naik kereta menuju kampus, dan seperti biasa kereta sangat penuh. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain berdiri mengikuti arus barisan penumpang yang sesekali bergoyang mengikuti gerakan kereta. Terkadang tubuh hanya bisa ditopang satu kaki, sedangkan satu kaki yang satunya mencoba untuk tidak menginjak kaki orang lain. Tas ditaruh di dada, tangan kanan memegang tali pegangan, tangan yang lain mendekap tas.

Setengah jam kemudian kereta hampir tiba di Jatinegara, stasiun tujuan saya. Di belakang, orang-orang sudah mulai mendorong supaya lebih dekat ke pintu keluar. Sementara itu, seorang pria rapih di depan saya merasa terganggu dengan dorongan-dorongan itu. Dia melihat saya dengan curiga. Ketika kereta berhenti di stasiun Jatinegara, dorongan itu semakin deras. Saya kehilangan keseimbangan, tubuh saya terempas dan otomatis mendorong pria di depan. Pria itu mencoba bertahan dengan berpegang di bagasi, matanya menatap tajam ke arah saya, tangan kanannya meraba-raba sakunya memeriksa apakah dompetnya hilang.

Jantung saya berdegup sangat kencang membayangkan seandainya pria itu berteriak copet sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya. Saya berusaha tidak panik. Tidak juga tersenyum sebagai isyarat saya bukanlah copet.

Alhamdulillah, kejadian itu cuma berlangsung sebentar karena desakan orang-orang membuat saya terlempar keluar. Saya buru-buru berjalan, menenggelamkan diri dalam keramaian.

Selama beberapa waktu saya masih memikirkan kejadian itu. Bagaimana mungkin orang ganteng dan rapih kayak gini dikira copet?

Tapi pikiran itu perlahan berganti menjadi sebuah khayalan. Bagaimana seandainya saya jadi pencopet beneran, seorang pencopet profesional. Wah, ini bakalan jadi cerita bagus. Kemudian saya merancang cerita itu dengan akhir cerita yang tidak terduga.

Setelah satu-dua hari saya mendapatkan kosepnya dan mulai menulis. Menulisnya pun terasa mudah karena saya memang sering berpergian dengan kereta. Kalau Anda penasaran cerita apa yang saya tulis, Anda bisa baca ceritanya di sini.

About Ali

Penulis Amatir | duniafiksi.com

View all posts by Ali →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *