Biografi: John Grisham

Dari sekian banyaknya karya John Grisham, jujur saja, saya baru membaca The Client. Meski begitu saya sudah hampir menonton seluruh film yang diadaptasi dari karya-karyanya. Saya tidak menyangka dia pernah mengambil jurusan akuntansi di kuliahnya sebelum mempelajari hukum dan setelah itu berkarir sebagai penulis.

Sepertinya tidak mudah menjadi seorang penulis, John harus melewati berbagai hambatan, bahkan dia sampai terpaksa menjual sendiri buku pertamanya.

Jadi, buat kamu yang masih mengambang tentang karirmu di masa depan, barangkali kisah hidup John Grisham bisa memberi kamu sedikit inspirasi.

Bisbol, Akuntansi, atau Hukum? 

Terlahir dari pasangan pekerja konstruksi dan ibu rumah tangga di Jonesboro Arkansas pada tanggal 8 Pebruari 1955, tidak pernah dalam benak John Grisham bercita-cita menjadi seorang penulis. Malah, seperti anak-anak di lingkungannya, John sangat tertarik bermain bisbol dan ingin menjadi pemain bisbol profesional. Untuk mewujudkan mimpi masa kecilnya, dia bergabung dengan tim saat ada kesempatan baginya bermain bisbol tingkat mahasiswa di Mississipi.

Namun, setelah mempertimbangkan, akhirnya dia memutuskan meninggalkan bisbol profesionalnya dan fokus pada studinya.

Dia mengambil jurusan akuntansi sebagai usaha mempersiapkan dirinya sebagai seorang pengacara pajak, meskipun di pertengahan jalan, ketertarikannya berubah dari hukum pajak menjadi hukum kriminal dan pengadilan. Setelah lulus dari University of Mississipi Law School, John Grisham bekerja untuk sebuah firma di Southaven sebagai pembela untuk kasus-kasus kriminal kecil dan kecelakaan. Dia bekerja selama satu dekade sebelum terpilih menjadi anggota DPR pada tahun 1983, hingga berakhir masa jabatannya di tahun 1990.

Membiarkan Imajinasinya Berkeliaran 

Sebagai bagian dari praktisi hukum di Mississippi, dia bekerja sebagai pengacara pribadi yang tidak jarang bertugas untuk membela klien yang tidak punya uang. Itulah satu dari sekian alasan bagi John Grisham untuk untuk memulai karir menulisnya.

Suatu hari, selama masa persidangan korban pemerkosaan seorang anak 12 tahun, John Grisham mulai membayangkan apa yang akan terjadi jika ayah dari anak tersebut memutuskan mengambil jalur hukum sendiri dengan cara membunuh pelakunya? Atas dasar itu, John mulai menulis alur, meluangkan waktu menulisnya antara 60 – 80 jam seminggu. Dia bangun setiap pukul 5 pagi, lalu menulis setidaknya hingga satu jam sebelum pergi bekerja. Setelah melalui 3 pekan yang melelahkan, novel pertamanya A Time to Kill selesai di tahun 1987.

Seperti halnya para penulis baru, John Grisham menghadapi berbagai tantangan. Banyak penerbit dan editor yang menolak naskahnya. Dia pernah ditolak 16 penerbit sebelum akhirnya bertemu dengan seorang agen yang menandatangani kontrak dengannya. Tapi itu bukan berarti naskahnya bisa terbit dengan mudah karena dia mengalami penolakan lagi. Hingga, salah seorang editor memberikan kesempatan padanya. Dia adalah Bill Thompson dari Wynwood Press, editor yang pernah menemukan Stephen King. Dia membantu John Grisham menerbitkan 5.000 kopi novelnya dan memberikannya uang muka sebesar $15.000.

Dengan uang tersebut, John Grisham membeli 1.000 kopi bukunya dan mulai melakukan perjalanan ke selatan untuk menjual sendiri bukunya. Meskipun usaha membeli bukunya sendiri tidak membantu menaikkan rating bukunya dalam deretan buku terlaris, tapi dia tidak patah semangat, dan terus melanjutkan hobi menulisnya dengan antusias.

Momen Penting

Buku kedua John Grisham berkisah tentang seorang pengacara muda di sebuah firma ternama di Memphis; The Firm. Sesaat setelah naskahnya dikirim ke penerbit, akhirnya dia mendapat momennya. Paramount Pictures membeli hak ciptanya sejumlah $ 600.000 untuk diadaptasi kedalam film!

Kesepakatan tersebut ternyata menarik perhatian salah satu penerbit terbesar di New York, Doubleday membayar harga yang sama untuk membeli hak penerbitan bukunya. Hebatnya, The Firm masuk jajaran teratas daftar New York Times best seller dan menjadi novel terlaris pada tahun 1991.

Dengan penghasilan dari penjualan bukunya, saat ini John Grisham menjadi seorang penulis penuh waktu dan meletakkan karir hukumnya di sisi lain. Meski demikian, John tidak pernah menyesali keputusannya menjadi seorang pengacara. Karena dia percaya dia berhutang pada karir hukumnya menginspirasi cerita-ceritanya dan menjadi dasar sukses karir menulisnya.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah John Grisham?

Hidup memang penuh dengan hal yang tidak diduga dan terkadang kita tidak tahu akan menuju kemana. Tapi jika kita belajar melengkapi diri kita dengan mindset yang tepat, kita akan siap saat satu kali kesempatan dalam hidup yang kita tunggu-tunggu datang. Tentu saja, kita juga bisa menciptakan cerita-cerita yang mengispirasi. Inilah pembelajarannya:

(1) Komitmen pada pilihan kita

Jika kita memutuskan untuk menyerah dan tidak semangat mengejar mimpi kita, maka tinggalkanlah. Jangan menghabiskan waktu dengan menyesali atau malah uring-uringan. Dalam kasus John Grisham, dia meninggalkan mimpi masa kecilnya menjadi seorang pemain bisbol profesional untuk berkonsentrasi menjadi seorang pengacara pajak sebelum memutuskan bahwa mengambil jurusan hukum pidana dan pengadilan lebih cocok untuknya. Kendati demikian, dia sangat komit pada pilihan hukum barunya. Dia mengabdikan dirinya pada pilihan barunya dan menggali potensinya sebelum berpindah ke bidang lain. Hal demikian sama pentingnya ketika dia memutuskan bekerja ekstra di tengah jadwal kerjanya yang padat untuk menulis novel.

Untuk seseorang yang tidak berkomitmen pada keputusannya, dia akan menemukan dirinya berada di masa lalu.

(2) Jangan menunggu momen, Ciptakan!

Ketika John Grisham diberikan kesempatan untuk menjual hak ciptanya kepada Paramount Pictures, beberapa orang mungkin menganggap bahwa dia beruntung.

Tapi saya berpikir lain. Jika dia tidak melalui hari-hari melelahkan menulis setiap halaman buku pertamanya selama lebih dari tiga tahun, dia tidak akan pernah mendapat pengalaman menulis, cara menerbitkan dan menjual sebuah buku.

Menurut saya, dia tidak menunggu momennya. Dia melakukan sedikit aksi selama bertahun-tahun untuk menciptakan momen tersebut.

Banyak orang beranggapan bahwa mereka memerlukan sebuah momen penting untuk mendapatkan hal terpenting dalam hidup mereka. Sehingga mereka menghabiskan masa hidup mereka dengan menunggu kesempatan emas tersebut. Sedikit yang tahu bahwa semakin menunggu, semakin banyak waktu yang hilang. Jika mereka memanfaatkan waktu untuk mengasah akting mereka sebelum datang audisi film, memperbaiki teknik menjual sebelum datang kontrak miliaran rupiah, memperdalam ketrampilan bermain pedang sebelum terjun ke dalam medan perang, maka mereka akan memperoleh manfaat yang lebih dari pada waktu menunggu yang bisa berikan.

WAIT (MENUNGGU) bisa jadi kepanjangan dari What Am I Thinking (Apa yang sedang saya pikirkan), bukan? Jadi, lain kali kau menemukan dirimu menunggu lagi, tanya dirimu pertanyaan yang sama. Dan ingatlah kisah John Grisham ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *